Tidak Harus Luar biasa

Standar

Ada sebuah cerita dalam Kitab Suci tentang seorang pria bernama Naaman, yang menderita penyakit kusta. Atas nasihat pelayannya, yakni seorang putri Israel yang tertawan di negeri Naaman, Naaman akhirnya pergi menemui Nabi Elisha untuk bertobat. Sesampainya di Israel, Elisha menasihati Naaman supaya, kalau ia mau sembuh, ia mandi di Sungai Yordan sebanyak tujuh kali. Ternyata, Naaman berpikir bahwa mandi di Sungai Yordan sebanyak tujuh kali, terlalu sederhana untuk bisa menyembuhkan penyakitnya yang begitu berat. Karena itu, dia menolak dengan mengatakan, “Kalau soal mandi di kali, saya juga bisa melakukannya di Damsyik. Mengapa mesti mandi di sungai Israel?” Dia seolah mau berkata, “Dimana letak kehebatanmu?”

Namun, penasihat Naaman berkata, “Tuan, apabila Sang Nabi menyuruh Tuan melakukan sesuatu yang sungguh berat, bukankah Tuan akan melakukannya? Apa salahnya kalau Tuan melakukan hal yang sederhana ini?” Naaman mendengarkan nasihat itu dan mandi tujuh kali di Sungai Yordan. Dan lihatlah, sesudah yang ketujuh, Naaman sembuh total dari penyakit kustanya. Tindakan yang biasa-biasa saja bisa mendatangkan hal-hal yang luar biasa. Jadi, tidak harus yang luar biasa.

Ya, tidak harus yang luar biasa. Mungkin prinsip itulah yang dipegang oleh Petrus ketika ia minta bantuan Yesus untuk menyembuhkan ibu mertua yang menderita sakit yang biasa-biasa saja. Seperti diceritakan dalam Injil, pada waktu itu, Yesus datang kerumah Petrus untuk beristirahat. Ketika Yesus memasuki rumah, ternyata orang-orang di dalam rumah sedang dilanda persoalan, namun tidak begitu berat. Persoalannya sederhana saja, yakni ibu mertua Petrus sakit kepala. Petrus yang mungkin saja berpegang teguh pada prinsip “tidak harus yang luar biasa” memberitahukan kepada Yesus bahwa ibu mertuanya terserang demam dan meminta Yesus untuk berbuat sesuatu. Boleh jadi juga karena mereka mempunyai hubungan istimewa, sehingga sekalipun persoalan itu terlampau kecil untuk dilaporkan kepada Yesus, namun Petrus tidak segan-segan memberitahukannya kepada Yesus. Yesus pun pergi ke tempat si sakit, dan sambil memegang tangannya. Dia menyembuhkan perempuan itu dari demam. Semua terjadi seperti yang diharapkan Petrus.

Kadang-kadang kita berpikir bahwa Tuhan itu terlalu besar dan terlalu mahakuasa, sehingga kita tidak berani menyampaikan persoalan-persoalan kita yang sederhana kepadaNya. Padahal prinsipnya, tidak harus yang luar biasa. Kita berdoa kepada Tuhan supaya sembuh dari penyakit kanker, tetapi kita tidak pernah berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan menyembuhkan kita dari sakit kepala. Kita berdoa supaya Tuhan menyembuhkan kita dari penyakit jantung tetapi tidak pernah berpikir untuk berdoa mohon supaya Tuhan menyembuhkan kita dari sakit itu. Kita berdoa secara khusus kalau kita melakukan perjalanan jauh tetapi tidak berdoa kalau kita tinggalkan rumah menuju tempat kerja. Kita buat misa khusus supaya berhasil dalam suatu intensi yang sangat khusus tetapi kita lupa berdoa supaya Tuhan memberkati pekerjaan kita setiap hari.

Tidak harus yang luar biasa. Mungkin itu merupakan satu pesan yang bisa kita petik dari Injil. Tidak usah tunggu yang luar biasa kalau kita ingin minta sesuatu kepada Tuhan atau bersyukur kepada Tuhan. Tidak usah tunggu rejeki yang besar baru kita bersyukur kepada Tuhan dengan mempersembahkan misa khusus. Tidak usah tunggu kesulitan luar biasa baru kita berdoa kepada Tuhan untuk meminta tolong. Kita berdoa entah kapan saja dan dalam situasi apa saja. Kalau demikian, hubungan kita dengan Tuhan akan menjadi sangat akrab seperti hubungan Yesus dengan Petrus. AMIN

Inspirasi Sabda ~ Rm. Bernard Raho, SVD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s