Orang Kusta dan Cap

Standar

Di India Utara terdapat sejumlah desa yang sangat terbelakang. Setiap tahun, kurang lebih 10 sampai 12 orang meninggalkan desa-desa itu dan pergi ke sebuah gunung bernama Rishikesh. Mereka itu adalah orang-orang kusta. Mereka terpaksa meninggalkan kampung halamannya karena menderita penyakit kusta. Mereka percaya bahwa penyakit kusta adalah hukuman atas perbuatan jahat yang pernah mereka lakukan pada masa lampau.

Ketika mereka tahu bahwa ada tanda-tanda mereka mengidap penyakit kusta, serta-merta mereka pamit dengan anggota keluarganya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kampung halamannya. Mereka meninggalkan segala sesuatu di belakang : keuangannya, pekerjaannya, harta benda dan semua orang yang mereka kenal dan kasihi. Pada saat yang sama, istri-istri atau suami-suami mereka mengenakan pakaian putih yang menandakan bahwa mereka sudah menjadi janda atau duda. Anak-anak mereka akan mengatar mereka ke gunung itu, tetapi kemudian mereka akan mengucapkan ‘selamat jalan’ kepada ayah atau ibu mereka yang seolah-olah sudah mati.

Situasi dan perlakukan yang sama, kurang lebih dialami oleh orang-orang kusta yang hidup pada zaman Yesus. Dan orang-orang seperti itulah yang dijumpai Yesus sebagaimana diceritakan di dalam Injil hari ini. Dia bangkit dari kesepian, penolakan dan rasa tak berarti untuk berhadapan langsung dengan Yesus yang diyakininya tidak akan menolaknya. Yang paling penting disini bukan cuma peristiwa penyembuhan si kusta tetapi juga cara Yesus menyembuhkannya. Yesus membiarkan orang itu mendekatiNya. Lalu, terjadi dialog singkat. Mungkin dialognya lebih panjang daripada yang diceritakan oleh Markus. Kemudian, Yesus melakukan sesuatu yang terpikirkan pada waktu itu. Dia mendekati orang itu dan kemudian menjamahnya.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan orang kusta itu. Yesus tentu bisa saja menyembuhkan orang itu tanpa harus menyentuhnya secara fisik. Namun, Yesus sadar bahwa sebelum Ia menyembuhkan dia secara fisik, terlebih dahulu Ia menyembuhkannya secara psikis. Ia harus menyembuhkan dia dari sakit batin akibat ditolak, dibenci dan dijauhi masyarakat. Dengan menjamahnya, Yesus meyakinkan orang itu bahwa tidak semua orang meninggalkan dia. Masih ada orang yang mencintai dan menghargai dia sebagai manusia. Dengan menyentuh orang itu, Yesus membuatnya merasa bahwa dia bukannya tidak berharga sebagaimana masyarakat membuatnya percaya bahwa ia memang tidak berharga. Sebaliknya, bagi Yesus dan bagi Allah, dia itu amatlah berharga.

Orang kusta menderita bukan saja secara fisik, tetapi juga karena secara psikis ditolak. Lebih lagi, karena masyarakat mencap penderita kusta sebagai orang yang berdosa.

Dosa cap mencap ini bukan tidak biasa terjadi pada masyarakat atau keluarga-keluarga kita. Anak remaja yang sedikit berpikir lain dalam keluarga dicap nakal atau kepala batu. Demikian juga anak sekolah yang mungkin tidak cocok dengan jurusan yang dipilih oleh orangtuanya, dicap bodoh kalau tidak berhasil. Istri yang mungkin tidak bisa menerima perlakuan yang tidak adil dari suami dianggap ‘suka melawan’. Suami yang sesekali minum minuman keras dicap sebagai pemabuk. Dalam hal seperti itu, orang-orang yang bersangkutan menderita karena label atau cap-cap yang dipasangkan pada muka atau penggung mereka.

Pada masyarakat luas, orang yang miskin dicap malas. Padahal, kemiskinan mereka mungkin saja disebabkan oleh struktur ekonomi makro yang tidak adil, yang hanya menguntungkan orang-orang kaya, dan mempermiskin orang-orang yang miskin. Umat yang tidak rajin ke gereja biasanya dicap ‘tidak beriman’. Padahal, kemungkinan besar ‘ketidakberiman’ itu justru disebabkan oleh sistem pastoral yang tidak tepat sasar atau kehidupan para pemimpin umat yang tidak terlalu meyakinkan.

Yesus membongkar label dan menghapus cap yang dipasang oleh masyarakat pada orang kusta dengan melakukan terobosan besar. Dia menyembuhkan manusia dari akar persoalan. Penderitaan yang diakibatkan oleh pengalaman ditolak hanya bisa disembuhkan dengan pengalaman diterima kembali. Kita hanya bisa menerima orang lain kalau kita menghilangkan cap-cap itu dan masuk ke dalam persoalan mereka. Mungkin terobosan itu yang perlu kita pelajari dari Yesus. AMIN  (Rm Bernard Raho, SVD ~Buku Inspirasi Sabda Masa Biasa Tahun ABC)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s