PENGAMPUNAN

Standar

Diceritakan tentang seorang pensiunan tentara Jerman yang ikut membunuh orang Yahudi. Sejak terjadinya pembunuhan jutaan orang Yahudi, suara hatinya selalu tertekan. Ketika ia mendekati saat ajal, perasaan bersalah itu makin kuat terasa. Ia gelisah dan gelisah. Kemudian, ia berpikir entahkah pengampunan itu mungkin? Dia sangat membutuhkan dan merindukan pengampunan itu. Kepada siapakah dia mengharapkan pengampunan itu? Siapakah yang dapat memaafkan dia atas nama para korban yang telah dibunuhnya atas cara diluar perikemanusiaan? Hanya seorang Yahudi yang bisa melakukan itu. Dia mungkin bisa memaafkan dirinya atas nama mereka semua yang telah mati akibat kejahatan tentara Nazi.

Ia lalu mengutus anaknya untuk bertemu dengan seorang Yahudi. Orang Yahudi itu datang dan mendekati Sang perwira yang sakit berat itu. Sang Perwira bertanya, “Apakah anda bersedia memaafkan saya atas nama orang-orang Yahudi yang menjadi korban kekerasan tentang Nazi dimana saya sendiri mengambil bagian?” Orang Yahudi itu memandang wajah perwira itu selama beberapa menit tanpa ekspresi apapun pada wajahnya, kemudian pergi dengan tanpa mengatakan apa-apa. Dia menolak untuk memaafkan perwira itu. Tidak lama kemudian, perwira itu meninggal tidak termaafkan. Suatu kematian yang sangat mengerikan.

Pengampunan adalah suatu perbuatan yang mulia. Orang bilang, “Melakukan kesalahan itu adalah manusiawi tetapi memaafkan adalah sesuatu yang ilahi.” Andaikata orang Yahudi dalam cerita itu bisa memaafkan perwira tinggi itu, niscaya orang itu terbebaskan dari perasaan bersalah yang menyiksanya puluhan tahun. Sayangnya, yang terjadi adalah sebaliknya. Dia tidak bisa mengampuni perwira itu. Memang pengampunan bukanlah sesuatu yang gampang dilakukan. Apalagi kalau kesalahan yang dilakukan adalah terlalu besar untuk dimaafkan.

Namun, bagi Yesus, pengampunan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari karya pelayananNya. “Aku datang bukan untuk memanggil orang yang benar melainkan orang berdosa,” kataNya pada suatu kesempatan. Ketika dalam Injil, Dia berkata kepada orang yang lumpuh bahwa dosanya diampuni, ahli-ahli Taurat kaget. “Siapa gerangan orang ini yang mengatakan bahwa Ia bisa mengampuni dosa?” Mungkin mereka akan menjadi gila lagi andaikata mereka hadir ketika Yesus memberikan peirntah kepada murid-muridNya. “Barangsiapa kamu ampuni dosanya maka dosanya akan diampuni, dan barang siapa dosanya ditahan maka dosanya akan ditahan.”

Mengapa Yesus mengawali proses penyembuhan dengan mengatakan, “Dosamu diampuni?” Sebab sama seperti orang lain, si lumpuh itu juga orang berdosa. Dosa membuat manusia tidak berdaya seperti orang lumpuh.

Adakah orang yang bisa mengampuni dosa-dosa seperti itu? Pengampunan merupakan anugerah besar yang ditinggalkan Yesus kepada Gereja. Ketika seorang yang bukan Katolik, kemudian menjadi Katolik ditanyakan mengapa ia mau menjadi Katolik, jawabannya sederhana sekali, “Saya mau supaya dosa-dosa saya diampuni.” Itu saja. Pengampunan itu diperoleh melalui pelayanan para imam yang mereka sendiri juga mempunyai dosa dan membutuhkan pengampunan. Dengan mengambil bagian dalam kekuasaan Kristus, setiap imam menjadi penyembuh yang terluka. Namun demikian, bukan imamlah yang mengampuni dosa, melainkan Kristus yang bertindak melalui imam.

Pengampunan membebaskan kita. Di dalam Sakramen Pengampunan kita bertemu dengan Yesus Kristus yang mengasihi kita tanpa syarat. Yesus melepaskan segala belenggu yang membuat kita terhimpit. Tentu saja dengan pengalaman itu, kita pun diharapkan untuk sanggup membebaskan orang-orang lain yang terbelenggu, yaitu orang-orang yang bersalah kepada kita. Hanya dengan itu, kita berani berdoa. “Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Amin. (Warta Paroki, 19 Jan ’12)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s