Marilah Kita Memakai Dua Sayap untuk terbang menuju kebersamaan dengan Tuhan : DOA dan CINTA

Standar

Johanes Maria Heijne, lahir di Leiden (Negeri Belanda), tanggal 18 Mei 1921. Ia adalah anak ke-3 dari tujuh orang bersaudara, hasil pemaduan kasih Henricus Heijne dan Theodora Maria Esman. Mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan serta empat adik perempuan. Seminggu kemudian, atau tepatnya pada tanggal 25 Mei 1921, si mungil Jan demikian nama kecil panggilannya, dipermandikan dengan nama permandian Johannes.

Sejak kecil, ia sudah bercita-cita menjadi seorang missionaris. Maka tak ayal, ia meminta dibelikan perlengkapan untuk misa. Dan kemudian bersama adik-adiknya, si Jan kecil bermain misa-misaan. Perilaku dan keinginan Jan untuk menjadi imam, diketahui juga oleh sang ibu tercinta. Dan sang ibu mendukung cita-cita sucinya dengan doa-doa yang khusyuk dan tekun.

Ayahnya yang meninggal pada tahun 1978, adalah seorang pekerja di sebuah Toko Koperasi. Sedangkan ibunya yang dipanggil Tuhan dua tahun kemudian (1980), adalah seorang ibu rumah tangga yang baik.

Berkat doa-doa yang kuat dari sang ibu, akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1946, Johanes Maria Heijne ditahbiskan menjadi Imam di Teteringen, bersama 15 orang lainnya.

Ada Lapangan Sepakbola ?

Sejak kecil, sesungguhnya Johanes Maria Heijne gemar sekali bermain bola. Begitu kuatnya kegemarannya akan olahraga sepakbola, sehingga ketika orangtuanya hendak mengantar ke Seminari Menengah, demi memenuhi keinginan Jan menjadi imam, ia bertanya dan melihatnya terlebih dahulu, apakah di dalam seminari itu ada lapangan sepak bola.

“Kalau tidak ada, ya tidak usah masuk saja!” katanya jujur kepada WARKI, sambil tertawa renyah.

Syukur, Seminari Menengah di Soesterberg, yang dimasukinya pada tahun 1933, ada lapangan sepakbolanya. Kalau tidak, barangkali kita tidak akan kenal Pastor J. Heijne. Unik juga.

Dan memang, hampir semua aktivitas umat Gembala Yang Baik mengetahui, kecintaan Romo J Heijne akan sepakbola. Beliau tak pernah melewatkan kesempatan untuk menyaksikan pertandingan sepakbola yang ditayangkan di layar kaca televisi, sekalipun itu berlangsung lewat tingkat Eropah maupun Piala Dunia. Apalagi, bila yang bertanding adalah kesebelasan nasional Belanda.

Selain sepakbola, Romo J.Heijne, SVD juga seorang penggemar berat olahraga tinju dan balap sepeda. Kegemarannya terhadap kedua cabang olahraga ini, tidak begitu banyak yang mengetahui. Seperti sepakbola, beliau juga tidak mau melewatkan kesempatan untuk menyaksikan pertandingan tinju maupun lomba balap sepeda, terutama Tour de France.

40 hari tidak melihat daratan

Dua tahun dua bulan setelah ditahbiskan menjadi imam, yaitu pada tanggal 18 Desember 1948, dengan menumpang kapal Madura, Romo J Heijne SVD berlayar menuju Indonesia untuk menjalani tugas misi. Sejak meninggalkan pelabuhan Ijmuiden di Negeri Belanda, hingga tiba di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, tanggal 28 Januari 1949, selama 40 hari berada di laut tanpa melihat daratan. Hal ini disebabkan kapal harus berputar lewat sebelah barat benua Afrika, tidak boleh berlayar masuk melewati Terusan Suez, karena situasi di sana sedang gawat. Bayangkan, betapa jenuh dan meletihkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s